Selasa, 30 Oktober 2012

Indikator PHBS



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhLVXlJbqd1izFM9c0Aa2RNGqN28j7QUhlOjmOxaXkkFCG3eJG14KRDJtitp1vJLonkqHIn2WGI9qRpo2kj_mPFOOIA2ItgsSjBrlJnw0GvbsEjKOAihl7HLfseHxS66TBhKKpGjY5IWss/s1600/phbs1.jpgTerapkan 10 Indikator PHBS Dalam Lingkungan Keluarga
Apakah anda merasa bahwa diri anda dan keluarga anda merupakan keluarga sehat? Mungkin mayoritas langsung menganggukkan kepala jika mendapat pertanyaan demikian. Namun, tahukah anda apa saja langkah menuju ke keluarga sehat? Mungkin juga banyak dari kita yang langsung menjawab macam-macam langkahnya.

Menurut Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Kota Surabaya, dr. Sri Setyani, suatu negara yang sehat berawal dari diri sendiri dan keluarga yang sehat juga. Banyak penafsiran bahwa sehat itu haruslah memiliki peralatan penunjang kesehatan yang lengkap dan memadai, sehingga tetap membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Tidak harus demikian, langkah yang paling sederhana untuk menjaga kesehatan sekaligus mencegah penyakit adalah hanya dengan melakukan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat atau yang disingkat PHBS.

Disini, pengertian PHBS adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang, keluarga, atau masyarakat mampu menolong dirinya sendiri (mandiri) di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan.

Jumlah PHBS yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari pun sangat banyak, bahkan bisa mencapai ratusan. Misalnya tentang mengkonsumsi multi vitamin, istirahat yang cukup, membuang sampah pada tempatnya, hingga mampu mengendalikan emosi diri.

Sedangkan yang akan dibahas disini adalah PHBS dalam lingkungan rumah tangga. PHBS rumah tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga, agar tahu, mau dan mampu melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat.

Terdapat 10 indikator PHBS di dalam rumah tangga, yakni :
1.Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan : Yang dimaksud tenaga kesehatan disini seperti dokter, bidan dan tenaga paramedis lainnya. Hal ini dikarenakan masih ada beberapa masyarakat yang masih mengandalkan tenaga non medis untuk membantu persalinan, seperti dukun bayi. Selain tidak aman dan penanganannya pun tidak steril, penanganan oleh dukun bayi inipun dikhawatirkan berisiko besar dapat menyebabkan kematian ibu dan bayi.

Senin, 29 Oktober 2012

Bagaimana Cara Mencuci Tangan yang Benar?

Sahabat, mengingat pentingnya mencuci tangan sebagai salah satu upaya memutuskan rantai penularan penyakit, maka bidancare akan memberikan sedikit tambahan pengetahuan tentang topik mencuci tangan. Salah satu contoh sederhana yang membuat kita mulai berpikir tentang pentingnya mencuci tangan ; pernahkah kita memikirkan bagaimana peredaran uang dari tangan ke tangan, dari orang sehat maupun sakit lalu masuk ke bank dan beredar lagi di masyarakat begitu seterusnya. Untuk itulah bidancare berusaha menampilkan tentang cara mencuci tangan yang benar.
Ilustrasi/Admin (shutterstock)
Ilustrasi/Admin (shutterstock)
Apa sebenarnya pengertian mencuci tangan itu? Apakah cukup dengan air semangkuk yang biasa kita lakukan jika makan di rumah makan lesehan? Oh ternyata tidak cukup hanya begitu. Nah berikut ini adalah beberapa pertanyaan dan jawaban yang dapat menyadarkan kita tentang manfaat dan tujuan mencuci tangan.

Minggu, 28 Oktober 2012

8 strategi mencegah stroke



JAKARTA, KOMPAS.com - Stroke atau hilangnya sebagian seluruh fungsi neurologis (saraf) yang terjadi secara mendadak kini menjadi salah satu penyakit yang cukup serius di Indonesia, karena jumlah kasusnya yang terus bertambah.

Di negara maju seperti Amerika Serikat, stroke menempati urutan ketiga sebagai penyebab kematian. Sedangkan di Indonesia, stroke adalah penyebab kematian terbesar dan penyebab kecacatan tertinggi.

"Diperlukan strategi untuk menghadapi stroke. Data di Indonesia menunjukkan bahwa 8,3 per 10.000 penduduk menderita stroke," kata dr. Ekawati Dani Yulianti, SpS, spesialis saraf dari Rumah Sakit MRCCC Siloam Semanggi, saat seminar Healty Brain for Healthty Life, di Jakarta, Sabtu (14/1/2012).

Bahkan lanjut Eka, sebanyak 23 persen pasien yang dirawat di rumah sakit akibat stroke berujung pada kematian.

Ada banyak faktor risiko yang memicu timbulnya stroke seperti hipertensi, diabetes mellitus, rokok, hiperkolesterolemia, sindrom metabolik, penyakit jantung, dan konsumsi alkohol berlebih. Tetapi, faktor risiko ini sebenarnya dapat diubah dengan cara tatalaksana gaya hidup.

Berikut ini adalah beberapa strategi jitu mencegah stroke seperti diungkapkan oleh dr. Eka :

Kesehatan Gusi



Sebagian orang mungkin memiliki gusi yang lebih sensitif dibanding yang lain. Hanya saja, jika telah terjadi perdarahan pada gusi, hal ini bisa mengindikasikan adanya penyakit gusi seperti gingivitis atau peridontal gusi. Gingivitis merupakan peradangan pada gusi dan dapat diobati. Begitu pula peridontal, bila terdiagnosis pada tahap awal juga bisa disembuhkan. Kunci mencegah perdarahan gusi adalah dengan menjaga kebersihan mulut dan gigi.
Berikut adalah tips untuk mencegah gusi berdarah.

1. Sikat gigi setiap hari.
Idealnya, gigi harus disikat setelah makan.
Jika hal tersebut sulit dilakukan, setidaknya gosok gigi dua kali sehari yaitu saat bangun dan sebelum tidur.
Gusi berdarah bukan alasan untuk tidak menyikat gigi. Semakin jarang menyikat gigi, maka perdarahan pada gusi justru akan semakin parah.
Untuk meminimalkan perdarahan, gunakan sikat gigi dengan bulu lembut.

CUCI TANGAN MERUPAKAN PRILAKU HIDUP SEHAT


Saat ini diare terus menjadi pembunuh terbesar kedua bagi anak-anak dibawah 5 tahun di Indonesia, yang menyebabkan kematian lebih dari 100.000 anak per tahun. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh minimnya akses kepada air bersih dan layanan sanitasi, serta rendahnya tingkat kesadaran kebersihan. Tindakan/perilaku paling efektif dan cepat untuk mencegah diare dan menyelamatkan kehidupan anak-anak di Indonesia adalah Cuci Tangan dengan Sabun dengan benar. Dari hasil WHO menunjukkan bahwa mencuci tangan pakai sabun dengan beanr pada lima waktu-waktu penting dapat mengurangi prevalensi [atau kejadian atau kemungkinan] dari diare sampai 40%. Cuci Tangan pakai Sabun juga dapat membantu mencegah penyakit menular lainnya termasuk penyakit tipus, Avian Influenza dan lain sebagainya.



Untuk menunjang kampanye Cuci Tangan Pakai Sabun agar ini berjalan efektif, diperlukan berbagai dukungan berbagai pihak untuk ikut mensosialisasi gerakan ini agar menjangkau seluruh pelosok tanah air.
Peran media massa juga sangat diharapkan untuk ikut menyebarluaskan pesan-pesan kesehatan agar dilihat, dibaca, didengar dan dipraktekkan oleh masyarakat Indonesia umumnya dan anak-anak dibawah usia 10 tahun pada khususnya.

Dalam pandangan penulis media televisi adalah media promosi no.1 untuk menyebarluaskan pesan-pesan kesehatan. Kerana saat televisi adalah media hiburan dan informasi yang "wajib" dimiliki oleh setiap rumah tangga di Indonesia.
Tapi yeng menjadi pertanyaan kita, sejauh manakah peran stasiun-stasiun televisi di Indonesia ikut mengkampanyekan/mempromosikan "Gerakan Hidup Sehat" karena secara matematis dalam 24 jam tanyangan iklan di televisi di dominasi oleh promosi produk komersil yang kadang-kadang menyesatkan para pemirsa televisi.

Berikut beberapa contoh media yang sering digunakan dalam kegiatan promosi untuk memasyarakatkan Gerakan mencuci tangan pakai sabun bagi anak-anak di Indonesia agar menjadi kebiasaan rutin yang tidak pernah terlupakan.